Senin, 29 November 2010

NGATAS ANGIN.candi ngetos

Candi Ngetos terletak di Desa
Ngetos, Kecamatan Ngetos,
sekitar 17 kilometer arah selatan
kota Nganjuk. Bangunannya
terletak ditepi jalan beraspal
antara Kuncir dan Ngetos.
Menurut para ahli, berdasarkan
bentuknya candi ini dibuat pada
abad XV (kelimabelas) yaitu pada
zaman kerajaan ( Majapahit). Dan
menurut perkiraan, candi tersebut
dibuat sebagai tempat pemakaman
raja Hayam Wuruk dari Majapahit.
Bangunan ini secara fisik sudah
rusak, bahkan beberapa bagiannya
sudah hilang, sehingga sukar
sekali ditemukan bentuk aslinya.
Berdasarkan arca yang ditemukan
di candi ini, yaitu berupa arca
Siwa dan arca Wisnu, dapat
dikatakan bahwa Candi Ngetos
bersifat Siwa –Wisnu. Kalau
dikaitkan dengan agama yang
dianut raja Hayam Wuruk,
amatlah sesuai yaitu agama Siwa-
Wisnu. Menurut seorang ahli
(Hoepermas), bahwa didekat
berdirinya candi ini pernah berdiri
candi berukuran lebih kecil
(sekitar 8 meter persegi), namun
bentuk keduanya sama. N.J. Krom
memperkirakan bahwa bangunan
candi tersebut semula dikelilingi
oleh tembok yang berbentuk
cincin.
Bangunan utama candi tersebut
dari batu merah, sehingga
akibatnya lebih cepat rusak.
Atapnya diperkirakan terbuat dari
kayu (sudah tidak ada bekasnya).
Yang masih bisa dilihat tinggal
bagian induk candi dengan ukuran
sebagai berikut :
Panjang candi (9,1 m)
Tinggi Badan (5,43 m)
Tinggi keseluruhan (10 m)
Saubasemen (3,25 m)
Besar Tangga Luar (3,75 m)
Lebar Pintu Masuk (0,65 m)
Tinggi Undakan menuju Ruang
Candi (2,47 m)
Ruang Dalam (2,4 m).
Relief
Relief pada Candi Ngetos terdapat
empat buah, namun sekarang
hanya tinggal satu, yang tiga telah
hancur. Pigura-pigura pada
saubasemennya (alasnya) juga
sudah tidak ada. Di bagian atas
dan bawah pigura dibatasi oleh
loteng-loteng, terbagi dalam
jendela-jendela kecil berhiaskan
belah ketupat, tepinya tidak rata,
atau menyerupai bentuk banji. Hal
ini berbeda dengan bangunan
bawahnya yang tidak ada
piguranya, sedankan tepi
bawahnya dihiasi dengan motif
kelompok buah dan ornamen
daun.
Di sebelah kanan dan kiri candi
terdapat dua relung kecil yang di
atasnya terdapat ornamen yang
mengingatkan pada belalai
makara. Namun jika diperhatikan
lebih seksama, ternyata suatu
bentuk spiral besar yang
diperindah. Dindingnya terlihat
kosong, tidak terdapat relief yang
penting, hanya di atasnya terdapat
motif daun yang melengkung ke
bawah dan horisaontal, melingkari
tubuh candi bagian atas.
Yang menarik, adalah motif
kalanya yang amat besar, yaitu
berukuran tinggi 2 x 1,8 meter.
Kala tersebut masih utuh terletak
disebelah selatan. Wajahnya
menakutkan, dan ini
menggambarkan bahwa kala
tersebut mempunyi kewibawaan
yang besar dan agaknya dipakai
sebagai penolak bahaya. Motif kala
semacam ini didapati hampir pada
seluruh percandian di Jawa
Tengah, Jawa Timur dan Bali.
Motif ini sebenarnya berasal dari
India, kemudian masuk Indonesia
pada Zaman Hindu. Umumnya, di
Indonesia motif semacam ini
terdapat pada pintu-pintu muka
suatu percandian.
Arca Candi
Di Candi Ngetos sekarang ini tidak
didapati lagi satu arcapun. Namun
menurut penuturan beberapa
penduduk yang dapat dipercaa,
bahwa didalam candi ini terdapat
dua buah arca, paidon (tempat
ludah) dan baki yang semuanya
terbuat dari kuningan. Krom
pernah mengatakan, bahwa di
candi diketemukan sebuah arca
Wisnu, yang kemudian disimpan
di Kediri. Sedangkan yang lain
tidak diketahui tempatnya.
Meskipun demikian bisa dipastikan
bahwa candi Ngetos bersifat Siwa-
Wisnu, walaupun mungkin
peranan arca Wisnu disini hanya
sebagai arca pendamping.
Sedangkan arca Siwa sebagai arca
yang utama. Hal ini sama dengan
arca Hari-Hara yang terdapat di
Simping, Sumberjati yang berciri
Wisnu.
Cerita Rakyat
Candi Ngetos, yang sekarang
tinggal bangunan induknya yang
sudah rusak itu, dibangun atas
prakarsa raja Hayam Wuruk.
Tujuan pembuatan candi ini
sebagai tempat penyimpanan abu
jenasahnya jika kelak wafat.
Hayam Wuruk ingin dimakamkan
di situ karena daerah Ngetos
masih termasuk wilayah Majapahit
yang menghadap Gunung Wilis,
yang seakan-akan disamakan
dengan Gunung Mahameru.
Pembuatannya diserahkan pada
pamannya raja Ngatas Angin, yaitu
Raden Condromowo, yang
kemudian bergelar Raden Ngabei
Selopurwotoo. Raja ini
mempunyai seorang patih
bernama Raden Bagus
Condrogeni, yang pusat
kepatihannya terletak disebelah
barat Ngatas Angin, kira-kira
berjarak 15 km.
Diceritakan, bahwa Raden Ngabei
Selopurwoto mempunyai
keponakan yang bernama Hayam
Wuruk yang menjadi Raja di
Majapahit. Hayam Wuruk semasa
hidup sering mengunjungi
pamannya dan juga Candi Lor.
Wasiatnya kemudian, nanti ketika
Hayam Wuruk wafat, jenasahnya
dibakar dan abunya disimpan di
Candi Ngetos. Namun bukan pada
candi yang sekarang ini,
melainkan pada candi yang
sekarang sudah tidak ada lagi.
Konon ceritanya pula, di Ngetos
dulu terdapat dua buah candi yang
bentuknya sama (kembar),
sehingga mereka namakan Candi
Tajum. Hanya bedanya, yang satu
lebih besar dibanding lainnya.
Krom juga berpendapat, bahwa
disekitar candi Ngetos ini terdapat
sebuah Paramasoeklapoera,
tempat pemakaman Raja Hayam
Wuruk. Mengenai kata Tajum
dapat disamakan dengan Tajung,
sebab huruf “ng” dapat berubah
menjadi huruf “m” dengan tanpa
berubah artinya. Misalnya Singha
menjadi Simha dan akhirnya Sima.
Hal ini sesuai dengan pendapat
Soekmono yang menyatakan
bahwa setelah Hayam Wuruk
meninggal dunia, maka makamnya
diletakkan di Tajung, daerah
Berbek, Kediri.
Selanjutnya diceritakan, bahwa
Raja Ngatas Angin R. Ngabei
Selupurwoto mempunyai saudara
di Kerajaan Bantar Angin Lodoyo
(Blitar) bernama Prabu Klono
Djatikusumo, yang kelas
digantikan oleh Klono Joyoko.
Raja-raja ini ditugaskan oleh
Hayam Wuruk untuk membuat
kompleks percandian. Raden
Ngabai Selopurwoto di kompleks
Ngatas Angin menugaskan Empu
Sakti Supo (Empu Supo) untuk
membuat kompleks percandian di
Ngetos. Karena kesaktiannya
maka dalam waktu yang tidak
terlalu lama tugas tersebut dapat
diselesaikan sesuai petunjuk.

0 komentar: