Senin, 29 November 2010

NGATAS ANGIN sedudo

cerita sedudo bsam
Dahulu hiduplah sebuah
Ngliman, Kecamatan Sawahan,
Kabupaten Nganjuk. Mereka
adalah Begawan, istri nya Dewi
Sri serta adik ipar nya
Barata. Mereka adalah
keluarga yang disegani
masyarakat sekitar bahkan
sebagai panutan dan sesepuh
di desa tersebut. Mereka
sangat taat pada agama.
Segudang ilmu agama telah ia
kuasai sehingga bila ada
orang yang memerlukan
mereka dengan senang
membantunya. Dalam
kehidupan sehari - hari
mereka sangat baik suka
menolong rela berkorban demi
kepentingan umum atau orang
lain. Tidak pernah berfikir
tentang kepentingan pribadi.
Mereka berpandangan hidup
adalah milik Alloh dan akan
kembali kepada-Nya. Oleh
karena itu banyak orang yang
datang untuk belajar agama
minta nasehat maupun minta
berkah do ’a darinya.
Namun suatu ketika situasi
sedikit berubah, entah setan
dari mana yang telah
merasuki salah satu darinya,
Barata sering melakukan hal
hal tercela. Ia tidak suka lagi
membantu orang yang sedang
susah bahkan menghinanya.
Bahkan ia sering mengganggu
ketentraman warga
sekitarnya.
Pernah suatu
ketika Begawan melihat
Barata bercakap – cakap
dengan seseorang.
” Den tolong saya den. Berilah
saya sesuatu, anak dan
istriku seharian belum
makan. ” kata si fakir miskin.
”Kalau belum makan, pergi
saja ke warung. Jadi orang
jangan malas. Mana
mungkin kamu punya sesuatu
kalau tidak mau bekerja. Lalu
apa urusan nya
dengan ku ?” jawab Barata.
” Tolong saya den berikan
saya sedikit makanan untuk
keluarga saya den kali ini
saja. ” Kata si miskin.
” enak saja kamu minta
makanan padaku.
Memang
kamu
siapa? Pergi sana.. Dasar orang
miskin kerjaan nya cuma
minta – minta saja.
” Apakah tidak ada rasa
kasihan den..melihat saya
dan keluarga saya Den ?”
pinta si fakir miskin itu
dengan belas kasihan.
” aku tidak peduli! Kamu mau
kelaparan pun aku tak peduli
sama kamu. ”
Gertak Barata.
Mendengar hal itu Begawan
sangat marah kepada Barata
karena tindakan Barata
sangat tidak terpuji dan
tidak seharus nya di lakukan.
Oleh karena itu Begawan ingin
menasehati Barata. Pada
suatu hari Begawan memanggil
Barata di ajak duduk berdua.
” Barata pantaskah
perbuatanmu kemarin sebagai
orang yang hidup di dunia ini
memperlakukan sesama
dengan semena mena?
” Dia itu orang malas kalau
tidak diberi pelajaran mana
mungkin ia berubah?
Terjadilah perang mulut
diantara mereka.
Mereka berbeda pandangan,
maka tidak pernah lagi ada
kecocokan. Dipuncak
kemarahanya, Begawan
terpaksa harus mengusir adik
iparnya dari rumah.
” Kalau memang demikian
maumu lebih baik kamu pergi
dari rumah ini atau aku yang
pergi, kita tidak sejalan lagi. ”
kata Begawan.
” Baiklah aku akan pergi
sekarang!” jawab Barata.
Barata pergi dan mengembara
jauh meninggalakan Gunung
Wilis. Dewi Sri sangat sedih
karena Begawan mengusir
adiknya.Padahal Barata
sudah tidak punya siapa –
siapa kecuali kakaknya Dewi
Sri. Ia bingung harus berbuat
apa. Lebih berat adiknya atau
suaminya, keduanya sangat
dicintainya.
” Kanda mengapa kanda tega
mengusir Barata dari sini?
tanya Dewi Sri.
” Karna dia sudah tidak
pantas disini, tidak bisa
jidadikan contoh
masyarakat,semua ilmu yang
sudah aku ajarkan di
abaikan. ”
” Kanda aku mohon jangan
usir dia.. Aku mohon kanda.”
Pinta Dewi Sri kepada
suaminya.
” Aku tak bisa istriku, dia
sudah keterlaluan dan tidak
bisa dinasehati lagi. Biar ia
dapat mengambil pelajaran
dari semua ini, kalau memang
kamu berat dengan adikmu
dan semua sifat tercelanya
itu, terserah kamu. Berat
mana antara suami dan
adik ?”
Dewi Sri pun bingung untuk
memilih. Dan akhir nya Dewi
Sri memutus kan untuk pergi
mengembara mencari adik
satu satunya itu.Tinggalah
Begawan sendiri di rumah.
Begawan berusaha untuk
mencegah kepergian istrinya
tetapi gagal ia sudah bertekat
bulat untuk mencari adiknya.
Begawan merenungi semua
kejadian ini. Dia tidak punya
pilihan lain kecuali harus
hidup menyendiri sebagai
seorang duda.
Dia pun bergi
untuk membersihkan diri
mohon petunjuk kepada Alloh
dengan cara bertapa di bawah
air terjun yang sangat tinggi
untuk selamanya. Orang –
orang sekitar yang
memerlukan bagawan sering
mengunjungi untuk minta
nasehat atau petuahnya.
Anehnya selama bertapa
begawan tidak pernah berubah
ia selalu tampak muda
terutama di awal tahun baru
hijriah Muharam atau bulan
Suro. Semenjak itulah banyak
orang yang berdatangan
untuk mensucikan diri dan
mencari berkah di sana.
Mereka percaya barang siapa
yang melakukan ritual di
bawah air terjun tersebut
akan mendapat berkah dan
awet muda terutama di awal
tahun baru hijriah atau bulan
Suro. Dan air terjun tersebut
di kenal dengan nama SEDUDO
yang artinya seorang dudo.
Sampai sekarang masyarakat
masih percaya dengan mitos
tersebut. Banyak masyarakat
yang datang ke air terjun
sedudo untuk mandi
mensucikan diri agar
mendapat berkah dan awet
muda. Terutama di tahun baru
Hijriah atau bulan Suro.

NGATAS ANGIN.candi ngetos

Candi Ngetos terletak di Desa
Ngetos, Kecamatan Ngetos,
sekitar 17 kilometer arah selatan
kota Nganjuk. Bangunannya
terletak ditepi jalan beraspal
antara Kuncir dan Ngetos.
Menurut para ahli, berdasarkan
bentuknya candi ini dibuat pada
abad XV (kelimabelas) yaitu pada
zaman kerajaan ( Majapahit). Dan
menurut perkiraan, candi tersebut
dibuat sebagai tempat pemakaman
raja Hayam Wuruk dari Majapahit.
Bangunan ini secara fisik sudah
rusak, bahkan beberapa bagiannya
sudah hilang, sehingga sukar
sekali ditemukan bentuk aslinya.
Berdasarkan arca yang ditemukan
di candi ini, yaitu berupa arca
Siwa dan arca Wisnu, dapat
dikatakan bahwa Candi Ngetos
bersifat Siwa –Wisnu. Kalau
dikaitkan dengan agama yang
dianut raja Hayam Wuruk,
amatlah sesuai yaitu agama Siwa-
Wisnu. Menurut seorang ahli
(Hoepermas), bahwa didekat
berdirinya candi ini pernah berdiri
candi berukuran lebih kecil
(sekitar 8 meter persegi), namun
bentuk keduanya sama. N.J. Krom
memperkirakan bahwa bangunan
candi tersebut semula dikelilingi
oleh tembok yang berbentuk
cincin.
Bangunan utama candi tersebut
dari batu merah, sehingga
akibatnya lebih cepat rusak.
Atapnya diperkirakan terbuat dari
kayu (sudah tidak ada bekasnya).
Yang masih bisa dilihat tinggal
bagian induk candi dengan ukuran
sebagai berikut :
Panjang candi (9,1 m)
Tinggi Badan (5,43 m)
Tinggi keseluruhan (10 m)
Saubasemen (3,25 m)
Besar Tangga Luar (3,75 m)
Lebar Pintu Masuk (0,65 m)
Tinggi Undakan menuju Ruang
Candi (2,47 m)
Ruang Dalam (2,4 m).
Relief
Relief pada Candi Ngetos terdapat
empat buah, namun sekarang
hanya tinggal satu, yang tiga telah
hancur. Pigura-pigura pada
saubasemennya (alasnya) juga
sudah tidak ada. Di bagian atas
dan bawah pigura dibatasi oleh
loteng-loteng, terbagi dalam
jendela-jendela kecil berhiaskan
belah ketupat, tepinya tidak rata,
atau menyerupai bentuk banji. Hal
ini berbeda dengan bangunan
bawahnya yang tidak ada
piguranya, sedankan tepi
bawahnya dihiasi dengan motif
kelompok buah dan ornamen
daun.
Di sebelah kanan dan kiri candi
terdapat dua relung kecil yang di
atasnya terdapat ornamen yang
mengingatkan pada belalai
makara. Namun jika diperhatikan
lebih seksama, ternyata suatu
bentuk spiral besar yang
diperindah. Dindingnya terlihat
kosong, tidak terdapat relief yang
penting, hanya di atasnya terdapat
motif daun yang melengkung ke
bawah dan horisaontal, melingkari
tubuh candi bagian atas.
Yang menarik, adalah motif
kalanya yang amat besar, yaitu
berukuran tinggi 2 x 1,8 meter.
Kala tersebut masih utuh terletak
disebelah selatan. Wajahnya
menakutkan, dan ini
menggambarkan bahwa kala
tersebut mempunyi kewibawaan
yang besar dan agaknya dipakai
sebagai penolak bahaya. Motif kala
semacam ini didapati hampir pada
seluruh percandian di Jawa
Tengah, Jawa Timur dan Bali.
Motif ini sebenarnya berasal dari
India, kemudian masuk Indonesia
pada Zaman Hindu. Umumnya, di
Indonesia motif semacam ini
terdapat pada pintu-pintu muka
suatu percandian.
Arca Candi
Di Candi Ngetos sekarang ini tidak
didapati lagi satu arcapun. Namun
menurut penuturan beberapa
penduduk yang dapat dipercaa,
bahwa didalam candi ini terdapat
dua buah arca, paidon (tempat
ludah) dan baki yang semuanya
terbuat dari kuningan. Krom
pernah mengatakan, bahwa di
candi diketemukan sebuah arca
Wisnu, yang kemudian disimpan
di Kediri. Sedangkan yang lain
tidak diketahui tempatnya.
Meskipun demikian bisa dipastikan
bahwa candi Ngetos bersifat Siwa-
Wisnu, walaupun mungkin
peranan arca Wisnu disini hanya
sebagai arca pendamping.
Sedangkan arca Siwa sebagai arca
yang utama. Hal ini sama dengan
arca Hari-Hara yang terdapat di
Simping, Sumberjati yang berciri
Wisnu.
Cerita Rakyat
Candi Ngetos, yang sekarang
tinggal bangunan induknya yang
sudah rusak itu, dibangun atas
prakarsa raja Hayam Wuruk.
Tujuan pembuatan candi ini
sebagai tempat penyimpanan abu
jenasahnya jika kelak wafat.
Hayam Wuruk ingin dimakamkan
di situ karena daerah Ngetos
masih termasuk wilayah Majapahit
yang menghadap Gunung Wilis,
yang seakan-akan disamakan
dengan Gunung Mahameru.
Pembuatannya diserahkan pada
pamannya raja Ngatas Angin, yaitu
Raden Condromowo, yang
kemudian bergelar Raden Ngabei
Selopurwotoo. Raja ini
mempunyai seorang patih
bernama Raden Bagus
Condrogeni, yang pusat
kepatihannya terletak disebelah
barat Ngatas Angin, kira-kira
berjarak 15 km.
Diceritakan, bahwa Raden Ngabei
Selopurwoto mempunyai
keponakan yang bernama Hayam
Wuruk yang menjadi Raja di
Majapahit. Hayam Wuruk semasa
hidup sering mengunjungi
pamannya dan juga Candi Lor.
Wasiatnya kemudian, nanti ketika
Hayam Wuruk wafat, jenasahnya
dibakar dan abunya disimpan di
Candi Ngetos. Namun bukan pada
candi yang sekarang ini,
melainkan pada candi yang
sekarang sudah tidak ada lagi.
Konon ceritanya pula, di Ngetos
dulu terdapat dua buah candi yang
bentuknya sama (kembar),
sehingga mereka namakan Candi
Tajum. Hanya bedanya, yang satu
lebih besar dibanding lainnya.
Krom juga berpendapat, bahwa
disekitar candi Ngetos ini terdapat
sebuah Paramasoeklapoera,
tempat pemakaman Raja Hayam
Wuruk. Mengenai kata Tajum
dapat disamakan dengan Tajung,
sebab huruf “ng” dapat berubah
menjadi huruf “m” dengan tanpa
berubah artinya. Misalnya Singha
menjadi Simha dan akhirnya Sima.
Hal ini sesuai dengan pendapat
Soekmono yang menyatakan
bahwa setelah Hayam Wuruk
meninggal dunia, maka makamnya
diletakkan di Tajung, daerah
Berbek, Kediri.
Selanjutnya diceritakan, bahwa
Raja Ngatas Angin R. Ngabei
Selupurwoto mempunyai saudara
di Kerajaan Bantar Angin Lodoyo
(Blitar) bernama Prabu Klono
Djatikusumo, yang kelas
digantikan oleh Klono Joyoko.
Raja-raja ini ditugaskan oleh
Hayam Wuruk untuk membuat
kompleks percandian. Raden
Ngabai Selopurwoto di kompleks
Ngatas Angin menugaskan Empu
Sakti Supo (Empu Supo) untuk
membuat kompleks percandian di
Ngetos. Karena kesaktiannya
maka dalam waktu yang tidak
terlalu lama tugas tersebut dapat
diselesaikan sesuai petunjuk.

Sabtu, 27 November 2010

cara setting internet hp sony ericson

setting internet hp Sony ericson
SETTING GPRS SE W 810 i
dengan kartu SIMPATI November
11 , 2006
Berikut ini adalah setting GPRS di
hape SE W 810 i dengan cara
manual .
Karena kadang setting secara OTA
tidak berhasil maka sebaiknya
anda setting saja secara manual.
( dari pengalaman pribadi)
1 . Masuk menu SETTING ->
CONNECTIVITY -> INTERNET
SETTING - > INTERNET
PROFILE .
2 . Pilih NEW PROFILE , Isikan
Name: Telkomsel GPRS
3 . Connect Using: Pilih New
account - > GPRS data Name:
WAP on GPRS
User: wap
Password : wap123
Simpan perubahan
4 . Kembali ke menu awal,
INTERNET PROFILE , pilih
account yag telah dibuat tadi
kemudian klik MORE ->
SETTING , isikan data sbb :
Connect Using: WAP on GPRS
Use Proxy: Yes
Proxy Address : 10 .1 . 89. 130
Port number: 8000
Username : wap
Password : wap123 simpan
perubahan
5 . kembali ke menu awal,
INTERNET PROFILE , pada
account yang dibuat tadi pilih
MORE -> ADVANCED -> CHANGE
HOMEPAGE , isikan data sbb :
Name: Telkomsel GPRS
Address : http: //wap . telkomsel.
com
Simpan perubahan SELESAI
Selamat mencoba